Tampilkan postingan dengan label Ahmad Tohari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Tohari. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

Orang-orang Proyek (Cover Baru)

Harga:Rp59,000 / Rp47,200 (20% Off) | 
Penulis:Ahmad Tohari | 
Penerbit:Gramedia | 
Code:978-602-03-2059-5 | 
Rencana Terbit:Oktober 2015 | 
Jenis Cover:Soft Cover | 
Halaman:256 | 
Ukuran:135 x 200 mm | 
Berat:300 gram | 
Bahasa:Indonesia | 

Sinopsis:
Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?

Memahami proyek pembangunan jembatan di sebuah desa bagi Kabul, insinyur yang mantan aktivis kampus, sungguh suatu pekerjaan sekaligus beban psikologis yang berat. "Permainan" yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Akankah Kabul bertahan pada idealismenya? Akankah jembatan baru itu mampu memenuhi dambaan lama penduduk setempat?

Jumat, 19 Juni 2015

Lingkar Tanah Lingkar Air

Harga:Rp45,000 / Rp36,000 (20% Off) | 
Penulis:Ahmad Tohari | 
Penerbit:Gramedia | 
Code:978-602-03-1860-8 | 
Rencana Terbit:Juli 2015 | 
Jenis Cover:Soft Cover | 
Halaman:168 | 
Ukuran:135 x 200 mm | 
Berat:250 gram | 
Bahasa:Indonesia | 


Sinopsis:
Pergolakan perang mempertahankan kemerdekaan RI antara tahun 1946—1950 menyeret banyak pemuda kampung ke dalam kancah perjuangan bersenjata. Di antara mereka adalah Amid dan kawan-kawan yang berjuang di bawah panji Hizbullah. Amid dan kawan-kawan bertempur dan membela kemerdekaan RI sebagai kewajiban iman mereka. Amid pribadi bertekad setelah situasi damai akan bergabung menjadi anggota tentara resmi negara.

Tetapi sejarah membawa Amid masuk menjadi anggota laskar DI/TII yang menentang Pemerintah RI. Amid yang sesungguhnya seorang yang sangat cinta Tanah Air sering bimbang karena pasukannya
sering memerangi warga seagama, bahkan suatu kali Amid menembak mati seorang tentara yang di sakunya tersimpan kitab suci dan tasbih. Dia tidak sedih ketika Khalifah DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo tertangkap dan menyerukan seluruh laskarnya menyerahkan diri.

Tiga tahun kemudian Amid dan kawan-kawan malahan diminta oleh tentara untuk membantu menumpas pasukan komunis yang bertahan di hutan jati. Mereka kembali mengangkat senjata, kali ini atas nama Tentara RI, sesuatu yang pernah amat didambakan Amid; bertempur dengan semangat jihad untuk Republik.