Tampilkan postingan dengan label Majalah asyariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majalah asyariah. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juli 2014

Majalah Asy-Syariah Edisi 101 Vol.IX 1435H-2014 dan Sakinah

Judul: Majalah Asy-Syariah Edisi 101 Vol.IX 1435H-2014 dan Sakinah
Tema : Syiah Berlumur Darah
Penerbit: Oase Media
Tebal: 112 halaman
Fisik: 16 cm x 24 cm, uv, soft cover, 8 halaman color
Harga: Rp 12.000

Pengantar Redaksi Majalah Asy-Syariah Edisi 101 Vol.IX 1435H-2014 dan Sakinah


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Syiah Berlumur Darah
Kebencian Nasrani dan Yahudi telah mengitari tembok-tembok sejarah Islam. Sebagaimana dinyatakan al-Qur’an, denyut kebencian ini tak akan pernah berhenti, hingga kita mau mengikuti agama mereka. Di antara makar mereka, adalah menciptakan pelbagai agama atau isme-isme baru yang sekilas mirip Islam namun sejatinya teramat menyimpang. Muaranya jelas, merusak Islam dari dalam dan memecah barisan muslimin.
Salah satu agama imitasi itu adalah Syiah Rafidhah. Agama ini sebenarnya tidak berbeda dengan agama-agama yang muncul belakangan seperti Ahmadiyah, Baha’i, dan Kristen Ortodoks Syria yang sudah mengglobal atau al-Qiyadah al-Islamiyah Dalam lingkup lokal. Namun, karena sejarahnya yang tua-sudah muncul di zaman sahabat Rasulullah tidak heran jika agama ini telah berakar di sebagian orang dan mempunyai jutaan pengikut.
Syiah sendiri berakar dari akidah Majusi, agama resmi Kerajaan Persia yang pernah berdiri di wilayah Iran dan Irak sekarang- yang warga negaranya mayoritas Syiah. Rafidhah juga berakar dari kepercayaan Yahudi. Jika kebanyakan agama-agama palsu adalah gabungan Islam dengan Kristen, Syiah Rafidhah adalah gabungan tiga agama sekaligus yakni: Islam, Yahudi, dan Majusi. Jadi, dendam Persia dan kebencian Yahudi bahu-membahu melahirkan “musuh dalam selimut” bernama Syiah ini.
Karena itu, perbedaan-perbedaan mendasar antara Islam dan Syiah mesti dipahami oleh setiap muslim, agar kita tidak terbutakan dari kesesatan mereka. Syiah bukanlah mazhab di dalam Islam, tetapi agama yang berdiri sendiri. Masih kurangkah fatwa sahabat Nabi dan ulama yang menyatakan kekafiran mereka.
Atau lupakah kita dengan sejarah? Siapa dalang di balik terbunuhnya Utsman bin Affan dan Husain bin Ali? Siapakah yang membantu tentara Nasrani dalam merebut al-Quds? Siapakah pengkhianat Daulah Bani Abbasiyah, yang memberi kemudahan invasi bangsa Tartar ke Baghdad hingga menyebabkan runtuhnya daulah tersebut yang diikuti pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam? Siapakah rezim Suriah dan Iran sekarang yang membantai umat Islam yang minoritas?
Didasari keyakinan bahwa di luar Syiah Rafidhah adalah kafir; Ahlus Sunnah itu najis sehingga harus dilenyapkan; harta kaum muslimin dianggap harta rampasan perang; dan vonis Ahlus Sunnah sebagai penghuni neraka, menyebabkan mereka memenuhi lembaran sejarah dengan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak sejalan dengan kesesatan dan penyimpangan mereka.
Keyakinan berdarah-darah Syiah tak berhenti hingga di sini. Syiah meyakini bahwa saat Imam Mahdi mereka muncul, yang pertama kali ia lakukan adalah mengeluarkan dua khalifah Rasul, Abu Bakr dan Umar dari kuburnya lalu menyiksa keduanya. Imam Mahdi ala mereka juga akan membantai bangsa Arab dan kaum Quraisy, serta akan menghancurkan ka’bah dan Masjidil Haram.
Di panggung media, Syiah seolah berseberangan politik dengan Yahudi. Bahkan menjadi simbol perlawanan “Islam” terhadap hegemoni Barat di Timur Tengah. Tak heran jika banyak yang mengelu-elukan Syiah (baca: Iran) dan tokoh-tokohnya seperti Khomeini, Ahmadinejad, dan sebagainya. Namun, soal goreng-menggoreng opini, Yahudi memang jagonya. Demonstrasi besar-besaran dan krisis politik dalam beberapa tahun terakhir yang berhasil menumbangkan sejumlah penguasa di Afrika dan Timur Tengah -diistilahkan media sebagai Arab Spring- tak lepas dari campur tangan dan kolaborasi Yahudi dan Syiah. Itulah Syiah, bersenyawa dengan Yahudi, mereka akan terus melukis sejarah dengan tinta darah. Waspadalah!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Diantara isi Majalah Asy-Syariah Edisi 101 Vol.IX 1435H-2014 dan Sakinah
  • Syiah menghalalkan darah kaum muslimin
  • Ternyata Syiah juga penyembah kubur
  • Imam Mahdi versi Syiah, pembunuh berdarah dingin

Sabtu, 28 Desember 2013

Majalah Asy-Syariah Edisi 98 1434H-2013 dan Sakinah

Majalah Asy-Syariah Edisi 98 1434H-2013 dan Sakinah
Judul: Majalah Asy-Syariah Edisi 98 1434H-2013 dan Sakinah
Tema : Mengenal Dakwah Salafiyah dan Ulamanya
Penerbit: Oase Media
Tebal: 112 halaman
Fisik: 16 cm x 24 cm, uv, soft cover, 8 halaman color
Harga: Rp 12.000

Pengantar Redaksi Majalah Asy-Syariah Edisi 98 1434H-2013 dan Sakinah

SALAFI: TU]UAN ATAU PENYUCIAN DIRI?

Dakwah salaf bukanlah ruang di dalam sebuah bangunan bernama Islam. Akan tetapi, dakwah salaf adalah bangunan itu sendiri. Peletak batu pertamanya adalah Rasulullah sallahu’alaihiwasallam, bukan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sebagaimana sering dikicaukan oleh para penentang dakwah tauhid Wa sunnah.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanyalah mengembalikan gerbong Islam pada relnya, saat kereta bernama Islam itu disesaki para penumpang gelap berwajah Islam, para pedagang asongan
sufi dan kuburanisme (baca: kesyirikan),para penjaja “makanan” yang menaburi racun-racun Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah,dan sebagainya pada “jualan”-nya.
Apa yang beliau usung sejatinya adalah gerakan pemurnian, kernbali kepada ajaran yang dibawa Rasulullah   dan generasi salaf  sahabat, tahi’in, dan seterusnya). Jadi, salafiyah dan dakwah salaf bukanlah agama baru. Salafiyah adalah Islam itu sendiri. Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah dan beliau amalkan beserta para sahabatnya.
Ikatan Wala dan bara, cinta dan benci di kalangan Ahlus Sunnah adalah di atas Islam, bukan yang lain. Tidak di atas sebuah symbol tertentu, tidak pula karena partai tertentu. Yang ada hanya al-Kitab dan sunnah. Juga tidak mengundang mereka untuk fanatik kepada orang tertentu selain Rasulullah.
Seseorang yang mengaku bermanhaj salaf tidak akan membabi buta membela syaikhnya, karena semua ada timbangannya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Di sisi lain, seorang muslim juga tidak akan menghujat ulama hanya karena ridak sejalan dengan “pemikiran”-nya yang hanya dibangun di atas fanatisme atau semangat buta, tidak dibangun atas dalil apa pun.
Seorang muslim bukanlah orang rendah yang mau menukar agamanya dengan mi instan, mengaburkan manhajnya demi dunia. Ahlus Sunnah lebih rela disebut tidak “cerdas”, namun tidak akan rela melunturkan agamanya demi segepok dana yang tidak seberapa. Salafi tidak akan memelintir agamanya demi dunia atau memelintir kata-kata di dunia maya demi mengaburkan manhajnya. Juga jauh dari sikap membentur-benturkan fatwa antarulama demi mendapat pembenaran atas pemikirannya.
Saat sekte sesat dalam kubu umat Islam kian menjamur, yang semua mengaku mendakwahkan Islam, serta menjadikan hakikat Islam yang diajarkan oleh Rasulullah kian kabur, tentu menjadi sikap yang tidak cerdas jika orang yang mengaku Ahlus Sunnah justru merangkul pihak-pihak yang bermudah-mudah terhadap kesesatan mereka.
Oleh karena itu, sudah semestinya kita menisbatkan diri kepada manhaj salaf yang sebenarnya. Ia adalah stasiun terakhir yang setiap muslim semestinya menuju ke sana. Tatkala muncul bid’ah, Ahlus Sunnah membedakan diri dengan sunnah. Tatkala ra’yu (akal) dijadikan hakim, Ahlus Sunnah membedakan diri dengan hadits dan atsar.
Istilah Ahlus Sunnah, ath-Thaifah al-Manshurah, dan al-Firqatun an-Najiyah sendiri dimunculkan dan disebarluaskan oleh para ulama dahulu hingga sekarang untuk menjelaskan kepada umat Islam tentang hakikat Islam yang sesuai dengan ajaran Nabi   dan orang-orang yang senantiasa istiqamah meniti jejak langkah beliau.
Tinggal bagaimana kejujuran kita terhadap penisbatan tersebut. Salafi bukanlah tazkiyala (penyucian), melainkan sebuah upaya, tujuan dari keislaman kita. Semoga!

Segera dapatkan Majalah Asy-Syariah Edisi 98 1434H-2013 dan Sakinah hanya di sini.....

Minggu, 17 November 2013

Majalah Asy-Syariah Edisi 97 1435H-2013 dan Sakinah

Sampul Majalah Asy-Syariah Edisi 97 1435H-2013 dan Sakinah
Judul: Majalah Asy-Syariah Edisi 97 1435H-2013 dan Sakinah
Tema : Dicari Suami Ideal
Penerbit: Oase Media
Tebal: 112 halaman
Fisik: 16 cm x 24 cm, uv, soft cover, 8 halaman color
Harga: Rp 12.000

Sinopsis Majalah Asy-Syariah Edisi 97 1435H-2013 dan Sakinah

Dicari : Suami Ideal

Banyak suami yang merasa telah berperan besar dengan mencari nafkah, lalu merasa mendapat pembenaran untuk tidak mau tahu dengan urusan rumah. Mengurus anak, pekerjaan rumah tangga, hingga hal-hal yang lebih kecil dari itu, seperti "wajib" dibebankan pada istri semata.

Itulah salah satu "egoisme" suami yang banyak kita jumpai dalam kehidupan rumah tangga saat ini. Terlihat sepele, namun sejatinya cukup menggerogoti harmonisasi dalam keluarga. Apalagi bara egoisme itu terus disulut dengan sikap suami yang lebih senang menuruti kesenangan pribadi: menonton sepak bola, memancing, main game, internetan, nongkrong bersama teman-temannya, atau malah terlampau asyik dengan pekerjaan kantornya. Alih-alih bicara kepedulian, waktupun seperti tiada untuk keluarga.
Patut disadari, suami dengan segala karakternya, jelas dominan memberi warna dalam rumah tangganya, karena ia adalah kepala rumah tangga. Pada dirinya kepemimpinan itu berada, pada dirinya keteladanan harus ditampakkan, dan di pundaknya tugas mencari nafkah itu dibebankan. Dengan sederet tanggung jawab yang besar itu, rumah tangga jelas membutuhkan karakter suami yang bisa memimpin, membimbing, tegas, cepat dan tepat dalam mengambil keputusan, bisa memberi teladan, tidak pantang menyerah, ulet dalam bekerja dan mencari nafkah, dan sebagainya. Sudahkah ini semua dimiliki seorang suami?
Pada kenyataannya, kita justru menjumpai yang sebaliknya. Banyak suami yang tidak punya visi dalam berumah tangga, hingga terkesan nekat ketika memasuki gerbang pernikahan. Usaha/pekerjaan apa yang akan ditekuni, akan tinggal dimana setelah berumah tangga, seperti jauh dari rencana. Ada suami yang masih tinggal jadi satu dengan orang tua dalam  keadaan belum punya pekerjaan, justru merasa nyaman-nyaman saja padahal segala kebutuhan rumah tangganya masih di-support orang tuanya. Galibnya, sebagai kepala rumah tangga ia dituntut untuk menafkahi keluarganya, tidak berlindung dibalik kata tawakkal untuk menutupi kemalasan dan keputusasaannya.
Parahnya, dalam keadaan yang serba kekurangan ini banyak suami yang justru emosional. Menuruti emosi, ancaman cerai sedikit-sedikit ditebar. Seolah-olah cerai itu adalah perkara remeh yang tidak punya konsekwensi apapun. Seakan-akan dengan ancaman cerai dia bisa menjadi laki-laki sejati, superior, dan membuat wanita tak berdaya. Bahkan, ada yang menjadi ringan tangan demi menutupi "kegagalannya".
Ada pula yang sebaliknya. Suami dikaruniai rezeki yang luas, namun dia justru pelit memberi nafkah kepada keluarganya. Bahkan, dia menyalahgunakan kepercayaan istri untuk bermaksiat di luar rumah, berfoya-foya hingga selingkuh. Ada juga tipe suami yang tertutup, tidak mau terbuka kepada istrinya, dari soal pekerjaan atau penghasilannya, lebih-lebih uangnya ke mana saja dibelanjakan.
Padahal istri butuh tipe suami yang terbuka, mau mendengarkan dan mengajaknya bermusyawarah, perhatian, tidak otoriter, dan tidak selalu merasa benar sendiri. Akan tetapi, alih-alih penuh pengertian, sabar, dan pemaaf, banyak suami yang justru tidak mau menganggap, bahkan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali.
Itu baru soal karakter. Pertengkaran rumah tangga yang bisa berujung perceraian juga tidak jarang dipicu dari kebiasaan sepele. Seperti suami yang  jorok, kurang memperhatikan penampilan, kerapian rambut atau pakaian, dan sebaginya.
Sederet sifat atau kebiasaan jelek suami bisa jadi akan panjang dibeberkan di sini. Intinya, sebisa mungkin kita menghindari hal-hal yang bisa menyuntikan kebencian dalam rumah tangga. Menjadi ideal tidak berarti menjadi pribadi yang sempurna, tetapi tetap bisa diupayakan selama kita mau berusaha, insya Allah.

Diantara isi Majalah Asy-Syariah Edisi 97 1435H-2013 dan Sakinah

Tujuh Kriteria Suami Ideal,
Pemimpin rumah tangga yang dirahmati,
Ibadah yang paling Utama. dan masih banyak lagi

Dapatkan Majalah Asy-Syariah Edisi 97 1435H-2013 dan Sakinah hanya di SINI....