Tampilkan postingan dengan label Qonitah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qonitah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 18 vol 02 1436H-2014M

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 18 vol 02 1436H-2014M
Judul: Majalah Muslimah Qonitah Edisi 18 vol 02 1436H-2014M
Media Cerdas Wanita Salehah,
Tema: Aku Bangga Menjadi Ibu
Penerbit: Muslim Takwa Media
Fisik: 112 hal, isi hvs, 32 halaman full color, sampul soft cover, uv
Harga: Rp. 12.000 (jawa) atau Rp. 14.000 (luar jawa)

Sinopsis Majalah Muslimah Qonitah Edisi 18 vol 02 1436H-2014M

Ketika memasuki usia lanjut, keadaan fisik manusia tidak lagi sekuat sebelumnya. Pancaindranya pun demikian. Dia kembali menjadi manusia yang lemah sebagaimana pertama kali muncul ke alam dunia. Saat itulah, dia memerlukan bantuan untuk menjalani kehidupannya. Bisa jadi, harus ada yang memapahnya ketika ingin berpindah tempat, atau mesti ada yang menyuapinya saat ingin makan, atau membantunya bersuci setelah membuang hajat, dan sebagainya.
Pun demikian ketika dia sudah meninggal dunia. Dia tidak bisa lagi menambah bekal pahala karena terputus sudah masa-masa beramal. Akan tetapi, dengan kasih sayang-Nya kepada para hamba, seseorang masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mendapatkan derajat yang lebih tinggi. Di antaranya ialah dengan sebab permohonan ampunan kepada Allah, yang dipanjatkan oleh sang anak untuk dirinya.
Pembaca yang budiman, itulah sekilas gambaran bentuk bakti kepada orang tua (birrul walidain). Itulah saat-saat seorang manusia akan memetik bakti dari anak-anaknya.
Duhai, betapa besar sesal dan kerugian yang didapatkan seseorang ketika anaknya tidak menunaikan bakti kepadanya. Akan tetapi, tidak ada yang patut disalahkan selain dirinya sendiri. Patut diajukan tanya kepada dirinya, apa yang telah dia lakukan terhadap anaknya saat masih kecil? Sudahkah dia
mendidiknya dengan tarbiyah yang baik? Apakah dahulu dia memerintah anaknya berbuat yang baik dan melarangnya dari
hal-hal yang mungkar?
Benar bahwa syariat menganjurkan perbuatan berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu. Namun, perlu kita sadari bahwa hanya anak saleh dan salihah yang bisa menunaikan bakti kepada orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus mentarbiyah anak-anaknya di atas agama yang benar sehingga mengetahui berbagai kewajibannya, termasuk berbakti kepada kedua orang tua.
Orang tua harus membimbing anak-anaknya kepada adab yang bagus dan akhlak yang mulia. Di sisi lain, orang tua juga harus melarang dan memagari mereka dengan penuh kesungguhan dan ketulusan-dari segala hal yang dilarang oleh syariat dan membahayakan diri mereka atau orang lain. Dengan adanya
perintah dan larangan dari orang tua, anak juga akan menyadari ketika dewasa kelak betapa besar kasih sayang orang tuanya kepadanya. Dengan demikian, akan muncul pula tekad dalam diri anak untuk membalas kasih sayang orang tuanya, sekuat kemampuan dirinya.
Karena itu, marilah kita siapkan, diri menjadi orang tua yang baik dengan menuntut ilmu agama yang benar kemudian mengamalkannya. Kita tunaikan pula perintah berbakti kepada kedua orang tua kita, sehingga anak-anak kita bisa meneladaninya. Kita siapkan pula anak-anak kita untuk menjadi anak saleh dan salihah yang berbakti kepada kedua orang tua. Kita sendiri yang akan memetik hasilnya saat memasuki usia senja. Kita akan dapati-dengan izin Allah- anak-anak kita berbakti kepada kita sebagaimana dahulu kita berbakti
kepada kedua orang tua kita.
Diantara isi Majalah Muslimah Qonitah Edisi 18 vol 02 1436H-2014M
Menggapai ridha orang tua, Akibat salah asuhan, Bolehkah KB Spiral, Wanita Haid dan Masjid, Tips Manfaat Deteksi dini Kanker payudara dan serviks. Bonus Kalender Mungil.

Rabu, 10 September 2014

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 16 vol 02 1435H-2014M

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 16 vol 02 1435H-2014M
Judul: Majalah Muslimah Qonitah Edisi 16 vol 02 1435H-2014M
Media Cerdas Wanita Salehah,
Tema: Agar Ananda Tumbuh dalam Takwa
Penerbit: Muslim Takwa Media
Fisik: 112 hal, isi hvs, 32 halaman full color, sampul soft cover, uv
Harga: Rp. 11.000 (jawa) atau Rp. 13.000 (luar jawa)

Sinopsis Majalah Muslimah Qonitah Edisi 16 vol 02 1435H-2014M

Mencari keturunan merupakan salah satu tujuan manusia berkeluarga. Demikianlah Allah menggariskan fitrah manusia. Semasa anak masih kecil, ia menjadi penghibur bagi orang tua. Ketika orang tua sudah lanjut usia, manfaat dan bakti anak sangat dibutuhkan oleh orang tua. Agar mendapatkan anak yang berbakti, tentu orang tua harus berusaha mendidik dan membimbingnya menjadi anak yang Saleh dan salihah. Sebab, hanya anak yang seperti itulah yang bisa mewujudkan bakti kepada orang tua.
Dalam proses mendidik anak inilah mutlak dibutuhkan kerja sama dan saling pengertian antara ayah dan ibu. Kedua hal ini lebih dibutuhkan lagi ketika kedua orang tua hendak menerapkan sebuah kebijakan terhadap anak. Apabila terjadi perbedaan pendapat tentang sebuah kebijakan, usahakan dialog dan diskusi tidak terjadi di depan anak. Jadi, kebijakan tersebut telah disepakati oleh ayah dan ibu, baru disampaikan kepada anak. Dengan demikian, anak tahu bahwa kedua orang tuanya telah memberi aturan tertentu.Karena telah menjadi kesepakatan ayah dan ibu, tentu anak tidak memiliki celah untuk melanggar aturan tersebut.
Bayangkan apabila yang terjadi adalah sebaliknya. Artinya, ayah menerapkan sebuah kebijakan, tetapi ibu tidak sepakat; atau sebaliknya. Akhirnya, anak akan mencari dukungan kepada pihak yang membolehkan dilanggarnya kebijakan tersebut. Misalnya, ayah melarang, tetapi ibu membolehkan. Apa yang terjadi? Anak akan belajar untuk tidak menghormati salah satu dari kedua orang tuanya. Di samping itu, faktor lingkungan dan masyarakat sekitar juga sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang kepribadian anak. Oleh karena itu, dibutuhkan pula kerja sama antar orang tua yang ada dalam sebuah lingkungan. Dibutuhkan sikap sabar untuk saling menasihati dalam kebenaran, dan sabar untuk menerima masukan dari pihak lain.
Ketika anak berbuat salah dan ditegur oleh tetangga, seharusnya orang tua bersyukur dan berterima kasih. Ternyata tetangga kita masih peduli terhadap kebaikan anak kita. Ada efek negatif yang muncul ketika orang tua tidak terima dengan teguran tetangga terhadap anaknya. Di antaranya, tetangga akan berpikir ulang untuk menegur ketika si anak melakukan kesalahan lagi, sehingga anak justru akan terbiarkan larut dalam kesalahan. Di antaranya pula, anak akan merasa bahwa dia mendapatkan pembelaan atas kesalahannya, sehingga lebih berani untuk melakukan kesalahan di masa mendatang. Tentu kita tidak mau kedua hal ini terjadi pada anak kita.
Ketika anak memasuki sebuah lembaga pendidikan (baca: pesantren), dibutuhkan pula kerja sama yang baik antara orang tua dan lembaga tersebut. Komunikasi antara orang tua dan lembaga pendidikan harus terjalin dengan baik demi kemaslahatan anak. Orang tua semestinya aktif mengikuti perkembangan belajar anak setiap hari. Orang tua tidak boleh berlepas tangan terhadap pendidikan anak meski anak sudah masuk pesantren. Ketika pesantren menerapkan aturan-aturan, awasilah anak agar tetap mematuhinya. Jika anak melanggar dan dibiarkan, anak akan belajar untuk bersikap tidak konsisten.
Pembaca yang budiman .... Karena itu, untuk mewujudkan anak yang saleh dan salihah, perlu kerja sama dan saling pengertian: antara ayah dan ibu; antara orang tua dan lingkungan sekitar; Serta antara orang tua dan lembaga yang telah mereka percayai untuk mendidik anaknya.
Berbagai usaha yang kita lakukan guna mendapatkan anak yang saleh dan salihah haruslah disandarkan kepada Allah.
Senantiasalah menyempatkan diri berdoa demi kebaikan anak, terlebih lagi pada waktu dan tempat yang mustajab. Sebab, hanya
Allah sajalah Dzat yang Mahamampu memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua.

Selasa, 20 Mei 2014

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 13 vol 02 1435H-2014M

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 13 vol 02 1435H-2014M
Judul: Majalah Muslimah Qonitah Edisi 13 vol 02 1435H-2014M
Media Cerdas Wanita Salehah,
Tema: Kesempurnaan Akhlak dan Pergaulan
Penerbit: Muslim Takwa Media
Fisik: 112 hal, isi hvs, 32 halaman full color, sampul soft cover, uv
Harga: Rp. 11.000 (jawa) atau Rp. 13.000 (luar jawa)

Sinopsis Majalah Muslimah Qonitah Edisi 13 vol 02 1435H-2014M,

Pengantar Redaksi, Ada Nilai Dakwah dalam Akhlak Kita
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Seringkali penilaian baik tidaknya seseorang diukur dengan akhlak an adabnya ketika bergaul dengan orang lain. Inilah yang terjadi pada masyarakat secara umum. Bahkan, sebagian orang-yang belum memeluk Islam, atau yang jahil terhadap hakikat agama Islam-akan melihat dan menilai agama Islam dari perilaku dan tindak-tanduk pemeluknya.
Semakin berilmu tentang agama, seseorang seharusnya semakin menunjukkan akhlak karimah dan perilaku yang terpuji. Jika tidak demikian, ilmu yang dia peroleh justru akan menghujat dirinya sendiri. Lebih dari itu, perilaku buruk dari orang yang dianggap berilmu tentang agama, justru akan merusak nama baik agama itu sendiri. Betapa banyak anggapan keliru tentang agama Islam yang mulia ini, yang sebabnya ialah perilaku sebagian pemeluknya-bahkan orang yang ditokohkan dalam agama-yang jauh dari tuntunan Islam.
Pembaca ….
Bisa jadi, untuk berdakwah dengan menyampaikan ilmu agama di depan khalayak, kita belum mampu. Akan tetapi, pernahkah kita sadari, ketika mengamalkan beragam tuntunan syariat semampu kita, sejatinya kita juga sedang mendakwahkannya kepada orang lain? Seakan-akan, kita sedang menunjukkan kepada orang lain, inilah Islam. Ketika ada orang bertanya kepada kita tentang sebuah amalan yang kita kerjakan, lantas kita jelaskan kepada mereka; bukankah ini suatu bentuk dakwah? Atau paling tidak, orang lain jadi tahu tentang sebuah amalan yang sebelumnya dia anggap aneh atau bahkan tidak ada dalam Islam. Bukankah ini juga dakwah?
Demikian pula halnya dalam hal akhlak dan perilaku kita sehari-hari. Sudah semestinya akhlak dan perilaku kita menunjukkan kemuliaan dan keindahan agama Islam yang kita peluk. Mulai dari cara berbicara dengan lawan jenis, gaya dandanan ketika di luar rumah, sopan santun di jalan, muamalah dengan tetangga, perilaku dalam rumah tangga, Cara mendidik anak, hingga menjaga hubungan silaturahim dan berbagai aspek kehidupan; kita harus menyadari sepenuhnya bahwa dalam semua hal tersebut ada nilai dakwah.
Akan tetapi, di sisi lain, perilaku dan pergaulan yang baik tidak boleh menabrak rambu-rambu syariat. Batasan syariat tetap harus dijaga. Upaya menunjukkan akhlak dan perilaku yang terpuji tidak boleh menyeret kita melakukan hal-hal yang diharamkan, seperti khalwat, ikhtilalh, nada bicara wanita yang mengundang godaan, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Apalagi sampai menjatuhkan kita dalam kegiatan yang beraroma kebid’ahan, terlebih lagi kesyirikan.
Oleh karena itu, ada satu hal penting yang perlu kita perhatikan ketika bergaul dengan orang lain. Keinginan kita menunjukkan perilaku yang baik seharusnya tidak menghalangi kita melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Prinsip amar ma’ruf nahi mungkar harus tetap ditegakkan. Hanya saja, kita perlu melakukannya dengan hikmah, memilih cara dan kesempatan yang tepat.
Jadi, kita perlu mengetahui (baca: belajar dan mengilmui), rambu-rambu pergaulan apa saja yang dibolehkan dan yang dilarang oleh syariat. Akhirnya, kita pun harus kembali kepada sebuah kaidah agung yang dituliskan oleh al-Imam al-Bukhari sebagai sebuah judul bab dalam kitab Shahih-nya: al-‘ilmu qabla al-qauli wal ‘amal. Ya, berilmulah dahulu sebelum berucap dan berbuat.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Rabu, 02 April 2014

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 12 vol 01 1435H-2014M

Judul: Majalah Muslimah Qonitah Edisi 12 vol 01 1435H-2014M
Media Cerdas Wanita Salehah,
Tema: Menyemai Benih Cinta di Hati Suami
Penerbit: Muslim Takwa Media
Fisik: 112 hal, isi hvs, 32 halaman full color, sampul soft cover, uv
Harga: Rp. 11.000 (jawa) atau Rp. 13.000 (luar jawa)

Sinopsis Majalah Muslimah Qonitah Edisi 12 vol 01 1435H-2014M,

Pengantar Redaksi, Penuhilah Hak Suami Anda!
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Terucap sudah ikrar jalinan cinta dan kasih sepasang insan pada hari yang dinanti. Kini, terbentang luas harapan dan asa. , Terpikul sejumlah tanggung jawab di pundak mereka. Ya, dua insan telah mengikat janji untuk hidup bersama. Sebelumnya, masing-masing tiada mengetahui siapa yang ada di hadapannya sekarang. Sebelumnya, mereka terpisahkan oleh jarak yang jauh, lautan yang membentang, dan gunung yang menjulang.
Salah satu tanda kebesaran Allah ialah Dia menciptakan cinta kasih antara suami dan istri sebagai cinta sejati yang kokoh tertancap di hati. Cinta kepada kawan pun tidak bisa dibandingkan dengan cinta yang dimiliki oleh dua sejoli. Akankah semudah itu cinta dua sejoli bersemi? Tidak, Pembaca. Mereka mesti berjuang untuk menyemai cinta di hati masing-masing. Allah telah memerintah para suami agar bergaul dengan sang istri dengan pergaulan yang baik. Sang teladan, Rasulullah, juga telah menjelaskan adab-adab pergaulan yang baik antara suami dan istri. Keluarga beliau adalah cermin untuk kita mengukur diri. Sudahkah kita mencontoh Rasulullah dalam mendidik istri? Sudahkah kita amalkan tuntunan Rasulullah dalam mendidik buah hati?
Bagi istri, memang terbentang baginya tugas-tugas yang tidak bisa dianggap enteng: memuliakan dan melayani sang suami, menjaga dan merawat anak-anak, mengurus dan membersihkan rumah, menyiapkan makanan bagi semua anggota keluarga, dan tugas-tugas lain yang demikian banyaknya.
Mengurus rumah tangga bisa jadi terlihat ringan dan remeh menurut pandangan sebagian orang. Akan tetapi, pengaruhnya sangat besar terhadap kehidupan masyarakat. Istri yang bisa mengatur dan mengurus rumah tangga dengan baik akan membuat suami dan anak-anak betah. Akan muncul ketenangan jiwa pada diri seluruh anggota keluarga.
Rumah tangga seharusnya didasari oleh rasa saling mengerti dan saling menghargai. Di satu sisi, wanita memiliki sifat kurang akalnya dan kurang agamanya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi. Di sisi lain, rasa penat ketika mencari penghidupan di luar rumah bisa membangkitkan emosi suami ketika melihat sedikit saja kesalahan istri. Oleh karena itu, kesabaran mutlak dibutuhkan dari kedua belah pihak ketika melihat kekurangan pasangannya. Ego harus dikesampingkan agar rumah tangga bisa kokoh bertiangkan ketenangan dan saling menyayangi.
Oleh karena itu, seorang istri seharusnya berusaha mengerahkan segenap kemampuannya guna memenuhi hak suami. Selama tidak dilarang oleh syariat, penuhilah keinginannya. Terimalah semua pemberian suami sepenuh hati meski dirasa tidak sesuai dengan keinginan diri. Namun, apabila diajak melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya, tolaklah dengan cara yang baik sembari mengingatkan dan menasihati suami tentang batasan syariat-Nya.
Untuk menjadi seorang istri yang baik memang dibutuhkan jiwa besar dan berbagai perangai terpuji. Bisa jadi, Allah mengaruniakan akhlak dan perangai yang indah pada diri seorang wanita sehingga mudah baginya menunaikan hak-hak suami. Bisa jadi pula, adat setempat menuntut seorang istri berkhidmah terhadap suami sebagaimana yang dituntunkan oleh syariat. Hal-hal seperti ini patut disyukuri. Akan tetapi, agar bernilai di sisi Allah, semua itu harus berlandaskan ilmu agama dan niat. Jika tidak, semua yang dilakukan hanya teranggap sebagai kebiasaan diri atau menuruti adat istiadat. Satu hal yang penting, kita tidak boleh lupa untuk senantiasa berdoa, memohon pertolongan dan taufik dari Allah agar bisa menunaikan segala kewajiban sebagai seorang istri.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

Sabtu, 15 Februari 2014

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 11 vol 01 1435H-2014M

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 11 vol 01 1435H-2014M
Judul: Majalah Muslimah Qonitah Edisi 11 vol 01 1435H-2014M
Media Cerdas Wanita Salehah,
Tema: Bahaya Gosip
Penerbit: Muslim Takwa Media
Fisik: 112 hal, isi hvs, 32 halaman full color, sampul soft cover, uv
Harga: Rp. 11.000 (jawa) atau Rp. 13.000 (luar jawa)

Sinopsis Majalah Muslimah Qonitah Edisi 11 vol 01 1435H-2014M,

Pengantar Redaksi, Mewaspadai Ghibah
Lisan termasuk karunia Allah yang sangat agung bagi manusia. Di antara perwujudan syukur kita kepada Allah terhadap sebuah nikmat adalah dengan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada-Nya. Demikian pula seharusnya sikap kita terkait dengan nikmat lisan. Kita menggunakannya untuk kebaikan dan ketaatan, bukan sebaliknya. Kita harus menyadari bahwa lisan ibarat pedang bermata dua, Jika digunakan dengan baik, ia akan bermanfaat bagi pemiliknya. Sebaliknya, jika pemiliknya tidak bisa mengendalikannya, lisan justru menjerumuskannya pada kebinasaan, di dunia dan di akhirat. Kebinasaan di dunia bisa dalam bentuk hilangnya harta, kewibawaan dan harga diri, rusaknya persahabatan, ketenteraman dalam sebuah keluarga, ketenangan hidup dalam sebuah masyarakat, bahkan hilangnya nyawa. Adapun di akhirat, maka jelas, lisan yang tidak dijaga dengan baik akan menjerurnuskan pemiliknya ke dalam neraka. Na’udzu billahi min dzalik (Kita berlindung kepada Allah dan hal itu).

Karena itu, sudah sepantasnya kita sangat berhati-hati menjaga ucapan yang keluar dari lisan kita.
Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah. Banyak kebaikan yang bisa kita petik dengan lisan, di antaranya zikir, doa, dan tutur kata yang baik,nasihat, amar ma’ruf nahi munkar dan sebagainya. Kita bisa melakukannya sesuai dengan kemampuan kita, Adapun keburukan yang bisa terlontar lisan di antaranya namimah (adu domba) ghibah (menyebut kejelekan orang lain),celaan, makian, dan sebagainya. Di antara keburukan yang bersumber dari lisan di atas, paling mudah ditemui adalah ghibah. Bisa jadi, sebagian orang malah tidak sadar bahwa dirinya telah melakukan perbuatan dosa besar ketika membicarakan kejelekan orang lain. Mereka menganggapnya sebagai kembang obrolan. Apalagi ketika sesama, kaum hawa’ bertemu kemudian mengobrol hal seperti ini seakan-akan menjadi sesuatu yang dianggap biasa, kecuali para wanita yang dirahmati oleh Allah, Di warung ketika berbelanja, saat arisan, bahkan saat menghadiri majelis taklim sekalipun, sebagian wanita masih meluangkan waktu untuk menyebut-nyebut keburukan orang lain, sampai-sampai suaminya sendiri tak luput dibicarakan. Selain beberapa bentuk ghibah di atas, kita harus mewaspadai sarana lain yang bisa mengantarkan pada ghibah dan sekarang sedang merebak: kicauan melalui jejaring sosial di internet. Akan tetapi, ada beberapa bentuk membicarakan kejelekan orang lain yang diperbolehkan; Diantaranya ketika terzalimi dan meminta hakim mengembalikan haknya, ketika meminta fatwa, saat meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran, saat menasihati kaum muslimin atau mernperingatkan mnreka dari sebuah kejahatan, ketika seseorang menampakkan kemaksiatan, atau memanggil seseorang yang sudah terkenal dengan sebuah sebutan.
Kita memohon kepada Allah agar dijauhkan ghibah dan segala bencana yang bersumber dari lisan.

Sabtu, 16 November 2013

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 09 vol 01 1434H-2013M

gema-ilmu.com cover depan Majalah Muslimah Qonitah Edisi 09 vol 01 1434H-2013M
Judul: Majalah Muslimah Qonitah Edisi 09 vol 01 1434H-2013M
Media Cerdas Wanita Salehah,
Tema: Nama Untuk Ananda
Penerbit: Muslim Takwa Media
Fisik: 112 hal, isi hvs, 32 halaman full color, sampul soft cover, uv
Harga: Rp. 11.000 (jawa) atau Rp. 13.000 (luar jawa)

Sinosis Majalah Muslimah Qonitah Edisi 09 vol 01 1434H-2013M,

Betapa Berartinya Sebuah Nama

Kelahiran sang buah hati tentu menjadi momen yang sangat dinanti. Setiap orang tua aan menyiapkan berbagai keperluan bagi bayinya kelak. Sekian banyak persiapan fisik dan nonfisik tidak luput dari pikiran. Tak lupa, salah satu hal penting yang disiapkan adalah nama.
Beragam cara pandang orang tua ketika hendak memberi nama sang anak. Ada yang saking kagumnya, orang tua hendak menjadikan nama seorang selebritas -artis, tokoh politik, atau pemain bola terkenal- sebagai nama anaknya. Ada juga orang tua yang merasa kurang sreg kalau memberi anaknya dengan nama yang islami sehingga memilih nama yang kebarat-baratan. Alasanya bisa jadi karena orang tua ingin menunjukkan luasnya wawasan dan pemikiranya yang modern. Bisa jadi pula, sebabnya ialah krisis jati diri. Minder jika nama anaknya terkesan "tradisional" karena berbau Islam. Ini satu kutup.
Ada pula sekelompok lain yang berprinsip, "Apalah arti sebuah nama, mau dinamakan apapun, kalau mawar tetaplah wangi," persis seperti ucapan seorang pujangga kafir Eropa di era pertengahan yang gelap. Mereka tidak peduli akan nama anaknya. Dari mana diambil, apa artinya, baik atau buruk maknanya, dia tidak ambil pusing. Anak lahir, beri nama seadanya dan semaunya; selesai. Toh namanya anak tetap anak, esensinya adalah anak manusia. Mau diberi nama apapun, dia tetap manusia. Ini kutup yang lain.
Pembaca qonitah yang budiman, kedua kutup di atas tentu saja keliru dan sama-sama memprihatinkan. Bagaimanapun, nama menunjukan pemiliknya. Nama mengandung harapan dan doa. Nama yang baik akan memberi sugesti positif, baik bagi si pemilik nama maupun bagi orang yang mendengarnya. Demikian pula sebaliknya.
Orang tua tentu merasa senang ketika anaknya dipanggil dengan nama terbaik yang telah dia pilihkan untuknya. Muncul sebersit rasa senang terhadap keputusannya memberi nama pilihan untuk anaknya di masa silam.
Namun, ketika yang terjadi adalah sebaliknya, tegakah orang tua ketika kelak si anak dipanggil dengan nama yang buruk?, padahal dia sendiri yang telah menyematkannya?. Orang yang mendengar saja sudah risih, bagaimana halnya dengan si pemilik nama yang setiap saat menyandangnya?
Oleh karena itu, kita sangat perlu mengetahui bagaimana sebenarnya tuntunan Islam dalam hal pemberian nama anak. Dalam Islam, ada nama yang paling disukai oleh Allah dan nama yang baik, ada nama yang makruh, dan ada nama yang tidak boleh dipakai. Hati-hati dan cermatlah memilihkan nama untuk ananda tercinta.
Mengingat pentingnya pembahasan ini, kami tampilkan pembahasan ringkas pada rubrik Buah Kasih pada Majalah Muslimah Qonitah Edisi 09 vol 01 1434H-2013M ini.
Selamat membaca!

Kami sertakan daftar isi Majalah Muslimah Qonitah Edisi 09 vol 01 1434H-2013M antara lain :

Zikir berjamaah (bagian ke-2), Mengenal Allah (bagian ke-2), Faedah mengamalkan Sunnah Rosulullah, Surat an-Nisa ayat 34, Agar terhindar dari Pai Neraka, Berikanlah maaf, Harapkanlah Ampunan, Berwudhu dengan Bimbingan Syariat (bagian ke-2), Hukum wudhu wanita karena menyentuh Kemaluannya, Penyimpangan di Pesta Pernikahan (Bagian ke-2), Figur Mulia: Maimunah Penutup Ummahatul Mukminin, Kisah Maryam Bintu Imran, Wanita dan Pesona Parfum, Bahasa arab: Hukum-hukum jar, Nama untuk Ananda, dan masih banyak lagi insyaalloh...
Ayo beli Majalah Muslimah Qonitah Edisi 09 vol 01 1434H-2013M hanya disini.....