Tampilkan postingan dengan label majalah ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majalah ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Majalah Muslimah Qonitah Edisi 21 vo. 02 april 1436 H/ 2015 M

Sebagaimana yang diberitakan dalam hadits shahih bahwa kebanyakan penduduk neraka adalah dari kalangan wanita sehingga sudah seharusnya mereka menjaga diri jangan sampai menjadi penghuninya dan jadilah wanita pendamba surga, itulah tema utama yang disajikan majalah muslimah Qanitah edisi 21 vo. 02 april 1436 H/ 2015 M.

Judul: Majalah muslimah Qanitah edisi 21 vo. 02 april 1436 H/ 2015 M.
Dimensi: 16 X 24 cm
Berat:
Harga: Rp. 12.000 (jawa) Rp. 14.000 (luar jawa)

Daftar isi;

  • Taat Kepada Suami Bekalku Menghadap Ilahi
  • Sifat-sifat Wanita Penghuni Surga
  • Delapan Pintu Surga Terbuka Untuk Anda
  • Berhias Untuk Pasangan Penambah Keintiman
  • Al Isti’adah
  • Prinsip-prinsip Dakwah Salafiyah
  • Hadapkan Wajahmu ke Masjidil Haram
  • Haid dan Pernikahan
  • Doa Nabi Ayub Alaihissalam
  • Ummu Hani’ bintu Abi Thalib
  • Modis Gua Banget
  • Memerhatikan Kemampuan Anak
  • Mengenal Tanda-Tanda I’rab Bag 2
  • Menolak Pinangan Lelaki Sholeh Berdosa?
  • Suami Menggunakan Hak Istri
  • Tips Mengenakan Jilbab
  • Pelaksanaan Shalat Witir
  • Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Selama Kehamilan
  • Mengatasi Kebiasaan Mengompol Pada Anak
  • Tempat Pensil dari Koran dan Botol Bekas
  • Waspada Penyakit Demam Berdarah

Senin, 20 April 2015

Majalah Fawaid No 12 Vol. 02

Ijazah dalam dunia pendidikan menjadi harga mati yang harus diraih setelah menempuh pendidikan sebagai bekal kesuksesan hidup di dunia, sehingga berbagai cara ditempuh tanpa memandang etika dan syariat untuk mendapatkan selembar kertas pengesahan dari sebuah lembaga pendidikan. Bahkan sebagian orang menyandarkan keberhasilan di dunia dinilai dari ijazah yang dimiliki, semakin tinggi ijazah yang didapatkan, semakin terbuka peluang keberhasilan yang diraih, lalu bagaimanakah sebenarnya ajaran islam memandang ijazah dalam proses belajar mengajar. Benarkah ijazah sebagai syarat utama seorang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, lalu mengapa setiap tahun banyak lulusan dari berbagai lembaga pendidikan tak mampu mengangkat problem ketenagakerjaan bahkan pengangguran semakin merajalela. Kemanakah fungsi yang digadang-gadang akan mengantarkan keberhasilan setelah selesai menempuh pendidikan. Simaklah penjelasan tuntas permasalahan ijazah dalam pandangan islam yang diulas oleh majalah fawaid edisi no 12 april 2015.

Yang tak kalah penting dalam edisi kali ini adalah permasalahan hukum-hukum seputar pengurusan jenazah yang kian langka diketahui setiap muslim karena sebagaian mereka masih terkungkung pemikiran mistis akibat banyak mendengar dan menyaksikan tayangan fiksi penggambaran makhluk halus dari orang-orang yang telah meninggal. Terlebih lagi tatacara pengurusan jenazah selama ini hanya diketahui oleh para ulama kampung atau pemuka adat setempat yang sebagiannya tidak mengenal ilmu syariat yang benar tentang tatacara pengurusan jenazah. Itulah perlunya Anda mengetahui secara rinci hukum-hukum yang membahas tentang tata cara pengurusan jenazah bila mana suatu saat dibutuhkan tak harus mengandalkan orang lain.

Daftar isi majalah fawaid no 12 vol. 02 april 1436 H/2015M
Keabsahan Khilafah Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu’anhu
Hukum-hukum Jenazah
Menggapai Barakah Tanpa Ijazah
Akibat Nonton Ustadz diTV Rodja
Pujian Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkholi Terhadap Asy Syaikh Robi’ bin Hadi al Madkholi
Meruntuhkan Subhat Hizbiyyun
Iman dan Islam
Bab Sunnah Fitroh
Panji-panji Pembaharuan Islam Dakwah Syaikh Muqbil bin Hadi
Membantah Syubhat dan Makar Mutalawwin
Bangun Rumah di Musim Hujan? Jalan Terus...

Senin, 23 Februari 2015

Majalah Fawaid Edisi 11 vol 02 Rabiul Akhir 1436H-Februari 2015M

Majalah Fawaid Edisi 11 vol 02 Rabiul Akhir 1436H-Februari 2015M
Judul: Majalah Fawaid Edisi 11 vol 02 Rabiul Akhir 1436H-Februari 2015M
Tema : Asuransi dalam Pandangan Syariat Islam
Penerbit: Ma’had al-Manshuroh
Tebal: 104 halaman
Fisik: 15 cm x 23 cm, uv, soft cover
Harga: Rp 12.000 (Jawa) Rp.14.000 (Luar Jawa)
UNTUK KALANGAN SENDIRI

Salam Pengantar Majalah Fawaid Edisi 11 vol 02 Rabiul Akhir 1436H-Februari 2015M

BISNIS NASIB
Assallamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu
Di negeri barat, asuransi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Jenis-jenis asuransi sangat beragam, yang terkadang tidak terpikirkan oleh kita. Tentunya kita tidak perlu heran, karena memang demikianlah gaya kehidupan orang kaflr. Mereka selalu berupaya mencari dunia sebanyak-banyaknya tanpa peduli halal harom, termasuk dengan berbisnis asuransi, yang tak lain adalah bisnis nasib (untung-untungan).
Bagi orang yang rasa tawakalnya digantungkan kepada benda (harta), asuransi adalah solusi terbaik untuk meraih ketenangan hidup. Sehingga bagi mereka, semakin banyak ikut asuransi, maka semakin tenang hidupnya.Tentunya ini hanyalah angan-angan semata, karena ketenangan hidup tidak mungkin diraih dengan bertawakal kepada benda.
Islam sebagai agama yang sempurna dan penuh dengan keadilan, memandang asuransi termasuk muamalah yang harom. Karena di dalam asuransi, orang-orang yang menjadi pesertanya (pemegang polis) tidak bisa dipastikan akan mendapatkan manfaat yang adil dari keikutsertaannya itu.
Hal ini sangat berbeda dengan jual beli. Bila penjual dan pembeli telah mencapai kesepakatan dan terjadi transaksi, maka keduanya dipastikan akan memperoleh manfaat dari muamalah tersebut. Penjual akan mendapat keuntungan dari barang atau jasa yang dijualnya, sedangkan pembeli mendapatkan barang yang dibutuhkannya. Sekali lagi, keadaan ini sangat berbeda dengan asuransi. Asuransi hanya akan memberikan manfaat bagi orang yang mengikutinya hanya bila syarat dan ketentuannya telah terpenuhi.
Bila ia tidak pernah mengalami musibah, maka asuransi yang diikutinya tidak memberikan manfaat apapun baginya. la bahkan rugikarena setiap bulan membayar premi yang jumlahnya bisa sangat besar sementara ia tidak pernah merasakan manfaatnya.
Asuransi tetaplah harom meskipun perusahaan penyelenggaranya kelak' akan menyalurkan keuntungan yang didapatnya untuk kepentingan masyarakat (seperti asuransi-asuransi milik pemerintah). Muamalah yang harom tidak berubah menjadi halal walaupun tujuan yang hendak dicapainya adalah kebaikan.
Majalah Fawaid Edisi 11 vol 02 Rabiul Akhir 1436H-Februari 2015M ini mengangkat pembahasan asuransi karena beberapa waktu terakhir banyak muncul pertanyaan tentang masalah ini. Hal ini terkait dengan adanya program pemerintah yang mengadakan asuransi kesehatan bagi warganya (BPJS Kesehatan).
Semoga sajian kami member manfaat bagi pembaca.
Pembaca yang kami hormati. Dalam beberapa waktu terakhir, perjalanan dakwah salaflyyah di berbagai penjuru dunia mengalami perkembangan yang demikian cepat dan banyak membuat kita tercengang. Kita seolah tak percaya dengan munculnya fitnah demi fitnah yang sangat besar dan membuat ngeri. Bagaimana tidak? Orang yang terseret ke dalamnya bukan lagi kelas ustadz atau dai, bahkan para ulama! Perubahan yang demikian cepat terkadang membuat kami bingung. Satu permasalahan belum sempat kami muat, sudah muncul masalah yang baru. Perkembangan teknologi informasi yang kian canggih makin membuat sajian kami sering terasa sangat “telat”
Apapun keadaannya, Fawaid memang bukanlah majalah berita. lnilah prinsip yang selalu kami pegang. Kalau pun kami menyajikan informasi perkembangan dakwah terbaru, kami berupaya selalu diiringi nasihat para ulama, sehingga informasi yang kami sajikan akan membuahkan bimbingan dan bukan kebingungan.
Wallohu a’lam.
Wassallamu'alailkum Warohmatullohi Wabarokatuhu.

Kamis, 19 Februari 2015

Majalah Asy-Syariah Edisi 106 Vol.IX 1436H-2015 dan Sakinah

Majalah Asy-Syariah Edisi 106 Vol.IX 1436H-2015 dan Sakinah
Judul: Majalah Asy-Syariah Edisi 106 Vol.IX 1436H-2015 dan Sakinah
Tema : Melawan Kristenisasi
Penerbit: Oase Media
Tebal: 112 halaman
Fisik: 16 cm x 24 cm, uv, soft cover, 8 halaman color
Harga: Rp 13.000

Pengantar Redaksi Majalah Asy-Syariah Edisi 106 Vol.IX 1436H-2015 dan Sakinah

Kristenisasi Tiada Henti
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Sebuah ironi baru saja dipertontonkan di negeri ini. Gempita natal begitu meriah, seolah negeri ini mayoritas dihuni oleh nasrani. Mal, pusat perbelanjaan, supermarket, hotel, rumah makan dan tempat wisata atau rekreasi, dipenuhi pernak-pernik natal. Pohon natal dan patung sinterklas raksasa, miniatur Bethlehem, topi sinterklas yang menghiasi kepala karyawan sampai yang berkerudung sekalipun, menjadi potret buram di negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ini, itulah Indonesia. Kristenisasi dengan begitu halusnya menyeruak. Semarak natal mampu menembus pelbagai batas. Di kota-kota kecil, bahkan yang dikenal dengan kota santri sekalipun, natal demikian meriah.
Sebuah pemandangan yang tentu berbeda pada satu dekade silam. Ini memang bukan semata peringatan Natal. Populasi Nasrani faktanya memang naik tanpa disadari. Ragam Cara pemurtadan terus digeber habis-habisan, berbagai bentuk penistaan agama diciptakan, serta agama-agama yang merupakan gado-gado Islam dan Nasrani dibela mati-matian berdalihkan kebebasan agama dan berkeyakinan  (baca:lagi-lagi HAM).
Miris memang. Semakin miris kala seruan untuk bertoleransi sudah kebablasan, pencitraan Nasrani sebagai agama yang penuh damai dan kasih demikian tebal, dan ocehan-ocehan para “tokoh” muslim justru menihilkan Kristenisasi. Isu Kristenisasi, oleh para  “cendekiawan” muslim itu, dianggap Kristenfohia. Padahal, Allah   sendiri yang menyatakan hahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha hingga kita mengikuti agama mereka. Artinya, Kristenisasi tidak akan pernah berhenti di setiap tempat dan waktu. Ia akan selalu menyelinap, menyusup di tengah masyarakat muslim dimanapun dan sampai kapan pun. Bagi pemeluknya, Kristenisasi, atau yang transformasi atau penuaian jiwa adalah tugas suci sesuai pesan Bibel.Sebab menurut mereka, dunia tidak mungkin dikristenkan. Maka dari itu, Kristenisasi adalah harga mati. Lebih-lebih kucuran dana dari negara-negara kuat seperti AS dan Inggris siap mendukung geliat kristenisasi di Indonesia.
Apalagi apabila Kristenisasi tidak bisa dilepaskan dari sejarah Misionaris Kristen atau Katholik masuk Indonesia bukan 20 atau 50 tahun lalu, tetapi sejak penjajah Belanda masuk negeri ini. Pemurtadan oleh penjajah juga tidak semata menyasar suku-suku terasing, tetapi masyarakat muslim, dengan dukungan yang besar dari pemerintah Hindia Belanda kala itu.
“Hasil”nya kita rasakan sekarang. Konflik sesama anak bangsa yang berbeda agama seperti di Maluku dan Poso adalah peninggalan para penjajah yang akan terus kita warisi, Kristenisasi telah memecah daerah konflik tersebut baik secara geografis maupun ideologis. Sebut saja Desa Sirisori di Pulau Saparua. Karena Kristenisasi penjajah, desa ini pecah menjadi dua: Sirisori Islam dan Sirisori Kristen. Kala Maluku tengah di-setting memanas, warga Kristen berulah menyerang tetangganya yang beragama Islam.
Begitulah, jika akidah Kristen telah bersemi di dalam dada, tetangganya yang masih mempunyai pertalian darah sekalipun, tak segan akan dibantai. Di luar Cara-Cara halus yang selama ini jamak dilakukan, kaum salibis nyatanya berani menabuh genderang perang di saat mereka minoritas. Apa jadinya jika Kristenisasi yang ditarget tahun 2020 berhasil? Jangan jadi penonton, mari kita lawan derasnya arus pemurtadan. Ingat, Kristenisasi tidak akan pernah berhenti.

Rabu, 24 Desember 2014

Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 10 vol 02 2014

Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 10 vol 02 2014
Judul: Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 10 vol 02/Shaffar 1436H/Desember 2014
Tema : Sutrah Sunnah Nabi yang Ditinggalkan
Penerbit: Ma’had al-Manshuroh
Tebal: 104 halaman
Fisik: 15 cm x 23 cm, uv, soft cover
Harga: Rp 12.000 (Jawa) Rp.14.000 (Luar Jawa)
UNTUK KALANGAN SENDIRI

Sinopsis Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 10 vol 02 2014

Memasyarakatkan Sutroh
Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu
Termasuk bagian dari keterasingan agama ini di tengah umatnya adalah permasalahan sutroh. Berapa banyak kaum muslimin yang telah paham masalah ini dan berupaya mengamalkannya? Kita bisa memastikan bahwa jumlahnya sangat sedikit.
Melihat pemandangan orang sholat di sebuah masjid tanpa membuat sutroh adalah hal yang sangat lumrah di sekitar kita. Keadaan ini bisa terjadi pada imam -saat sholat berjamaah- atau orang yang sholat sendirian ketika sholat wajib (karena dia mungkin terlambat sehingga tidak mendapati sholat jamaah) atau sholat Sunnah.
Bila kita mengkaji permasalahan sutroh, kita akan tahu bahwa permasalahan ini sangat ditekankan, bahkan banyak ulama yang berpendapat hukumnya adalah wajib. Sehingga semestinya bagi kaum muslimin untuk memahami masalah ini dalam rangka meningkatkan kualitas sholatnya, yaitu agar sesuai dengan  bimbingan Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam.
Di sisi lain, pengetahuan tentang sutroh akan membuat kita bisa menyikapi orang yang sedang sholat, yaitu agar kita jangan sampai lewat di depan orang sholat antara orang tersebut dengan sutrohnya. Karena terdapat ancaman yang keras bagi orang yang lewat di depan orang sholat tersebut.
Pada Fawaid kali ini kami mengangkat Topik Utama tentang sutroh, sebagai salah satu upaya memahamkan kaum musllmin pada permasalahan ini. Tentunya apa yang kami lakukan ini hanya satu langkah kecil dari berbagai upaya untuk memahamkan umat pada agamanya.
Pembaca Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 10 vol 02 2014 yang kami hormati. Pertempuran antara salafiyyun dengan hizbiyyun adalah pertempuran antara al-haq melawan al-bathil, yang akan terus berlangsung sepanjang hayat di kandung badan. Sehingga tidak semestinya kita berangan-angan, setelah satu fitnah selesai, maka tidak akan ada lagi fitnah yang melanda salafiyyin.
Kami hanya sekedar mengingatkan saja bahwa dalam situasi apapun terlebih lagi saat fitnah bergejolak kita jangan sampai menjauh dari para ulama. Karena di masa kita manusia terbaik di sisi Alloh ta'ala dari sisi ilmu dan amal adalah para ulama robbani, yang telah dikenal sebagai pembela agama jauh dari ambisi dunia. Seingga kepada merekalah semestinya kita menyandarkan bimbingan dari setiap masalah yang kita hadapi.
Termasuk dalam permasalahan fitnah yang masih terus bergejolak, yaitu fitnah Dzulqarnain dan orang-orang yang bersamanya. Mereka masih terus melancarkan makar-makarnya, termasuk melemparkan berbagai syubhat untuk merusak pemikiran salafiyyin dan menggoyahkan pendirian mereka.
Setelah gagal merusak kredibilitas para asatidzah ahlus sunnah, kini mereka berupaya membidik kredibilitas para ulama ahlus sunnah semisal Syaikh Hani bin Buroik -yang mereka sebut sebagai pengoplos fatwa- Syaikh Arofat, Syaikh Badr al-Badr, dan Syaikh Kholid adz-Dzufairi yang dianggap oleh mereka sebagai
orang-orang yang belum pantas disebut ulama dan baru sekelas ustadz kalau di Indonesia. Juga celaan mereka bahwa para masyayikh tersebut hanya ingin menumpang tenar di bawah ketiak Syaikh Robi dan celaan-celaan lainnya. Allohul muata'an.
Mudah-mudahan pada edisi mendatang kami diberi kemudahan oleh Alloh ta’ala untuk bisa menyajikan data dan fakta tentang makar-makar mereka, sehingga kita bisa selalu waspada dan selamat dari fitnah ini. Wallohua’lam.
Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu
Sebagian Daftar isi Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 10 vol 02 2014 antara lain:
- Subhat Khowarij (bagian dua)
- Sutroh untuk Sholat
- Menepis tipu daya Firanda, membela ulama sunnah
- Mutalawwin bergandeng tangan dengan hajuriyun, kok bisa
- Menyikapi Tahdzir asy-Syaikh Utsman as-Salimi terhadap Ust. Luqman Ba'abduh
- Fatwa ulama: Pentingnya menjaga hubungan dan saling mengunjungi di masa fitnah
- Ini dia ciri-ciri orang yang menyimpang, Waspadailah!
- Kisah kepahlawanan Islam: Singa-singa Sahara
- Kisah Shohabat: Sa'ad bin Abi Waqqosh, sang pemanah hebat
- dan masih banyak lagi...

Minggu, 09 November 2014

Majalah Asy-Syariah Edisi 104 Vol-IX 1436H-2014

Majalah Asy-Syariah Edisi 104 Vol-IX 1436H-2014
Judul: Majalah Asy-Syariah Edisi 104 Vol-IX 1436H-2014 dan Sakinah
Tema : Mengawal Remaja Meniti Jalan ke Surga
Penerbit: Oase Media
Tebal: 112 halaman
Fisik: 16 cm x 24 cm, uv, soft cover, 8 halaman color
Harga: Rp 12.000

Pengantar Redaksi Majalah Asy-Syariah Edisi 104 Vol-IX 1436H-2014 dan Sakinah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mendidik dengan Hati
Perlu disadari bahwa pendidikan tidak hanya di ruang kelas atau lembaga pemdidikan, akan tetapi dimulai dari keluarga. Keluarga menjadi madrasah pertama bagi anak untuk mengenal kebaikan dan keburukan.
Ketika anak sudah mulai belajar tentang kehidupan yang diikuti dengan keteladanan orang tuanya, maka anak akan merasakan bahwa keluarga adalah rumah pertama dan lembaga pendidikan adalah rumah kedua yang membantu dirinya menemukan kesejatian hidup.
Maka dari itu, peran orang tua menjadi demikian penting karena nyaris tidak tergantikan oleh siapapun. Lebih-lebih kebaikan seseorang itu dimulai dari apa yang paling ditekankan orang tua kala masih belia.
Karena itu, pendidikan agama menjadi tanggung jawab utama yang ada di pundak orang tua. Orang tua dengan segala kebaikan dan keburukanya, akan menjadi guru bagi anak-anaknya. Jika orang tua cara mendidiknya baik yang diiringi dengan keteladanan yang baik pula, dengan izin dan hidayah Allah, anak akan tumbuh dalam kebaikan, yang mewujud dalam watak dan karakter mereka yang baik.
Salah kaprah jika orang tua zaman sekarang justru menggantungkan harapan yang demikian besar kepada lembaga pendidikan semata. Se-favorit apa pun sekolah anak, bukanlah alasan untuk mengabaikan anak, termasuk alsan sibuk mencari nafkah sekalipun.
Menjadi ironi, dengan keterbatasan waktu -dan tentunya ikatan batin antara orang tua dan anak- banyak orang tua malah memaksakan anaknya agar berprestasi di lembaga pendidikan.
Minset orang tua saat ini faktanya masih jalan di tempat, yakni ketakutan tentang masa depan duniawi mereka. Sudah saatnya orang tua mengubah pola pikir yang selama ini dimiliki. Pendidikan agama adalah yang terpenting bagi masa depan anak.
Yang dikawatirkan orang tua terhadap anak bukan soal profesi atau pekerjaannya di masa depan. Lebih dari itu adalah agama dan kemafaatan mereka bagi masyarakat dan umat.
Mendidik butuh keikhlasan. Keiklasan akan membuat sesuatu yang berat menjadi ringan. Sesuatu yang sulit menjadi lebih mudah. Lebih-lebih jika kita senantiasa mendoakan mereka agar diberi kemudahan dan kesabaran dalam medidik buah hati kita.
Kita memang tidak bisa melihat masa depan, tetapi masa kini tertampang di depan kita. Mendidik dan mengasuh anak merupakan sebuah investasi masa depan. Apa yang kita tanam saat ini akan kita tunai juga nantinya.
Saatnya kita berbenah. Mari didik buah hati kita dengan hati, meneladani Nabi sang pendidik umat yang tiada duanya.

Selasa, 23 September 2014

Bundel Majalah Asy-Syariah Edisi 13-16

Bundel Majalah Asy-Syariah Edisi 13-16
Judul : Bundel Majalah Asy-Syariah Edisi 13-16
Penerbit : Oase Media (GemaIlmu.Com, Gema-Ilmu.Com)
Tebal : 405 halaman
Fisik : 16 cm x 24 cm, uv, hard cover
Harga : Rp. 95.000,-
Harga Di Sini: Rp. 90.250,-
Disc:5%

Sinopsis Bundel Majalah Asy-Syariah Edisi 13-16

Alhamdulillah, dengan izin Allah, bundel keempat bisa hadir ke tengah Anda, Pembaca. Sempat terkendala oleh banyaknya perubahan dan editing ulang, bundel edisi 13-16 ini kini bisa menjadi bagian dari khazanah keilmuan yang layak Anda miliki. Bisa jadi, apa yang disuguhkan hanyalah setetes dari air samudra Islam yang demikian luas dan dalam.
Namun, sesedikit apa pun, ilmu tetaplah harus diselami, Ia tetaplah tanaman yang mesti terus disirami, Ia tetaplah tambang emas yang perlu terus digali. Keilmiahan, tidak bisa tidak, pun menjadi harga mahal. Demikianlah Islam, semua harus ilmiah, semua harus berlandaskan ilmu.
Maka dari itu, upaya untuk tidak menyuguhkan pembenaran, namun insya Allah menyajikan kebenaran, Kami tidak terkungkung oleh fanatisme yang penuh tendensi, karena kami senantiasa menyuguhkan dalil-dalil syar`i. Sehingga kami berharap, apa yang kami suguhkan benar-benar bisa menjadi pelepas dahaga kita akan ilmu, di tengah maraknya "pembenaran" atas ajaran kelompok tertentu.
Semoga ini bisa membuka mata kita, sudah saatnya kita menanggalkan baju kelompok, sudah saatnya kita berpikir ilmiah, dan senantiasa merujuk dalil-dalil syar’i.
Ilmu akan senantiasa mengalir tiada henti, mengantarkan pencerahan, merobohkan jeruji besi kebodohan. Selain ilmu, dia hanya akan menjadi bunga sejarah, mengelapai, layu, untuk kemudian rontok, terbenam oleh waktu.
Bundel asy-syariah ini terdiri dari majalah asy-syariah edisi 13 sampai dengan edisi 16, dalam rentang bulan Februari 2005 sampai Mei 2005, namun ini adalah ilmu yang tak pupus oleh waktu. semua memang bukan bundelnya, tetapi lembaran demi lembaran yang mengandung muatan ilmu di dalamnya. Lebih-lebih ini menyangkut ilmu agama, sesuatu yang semestinya memang wajib kita ilmui.

Selasa, 20 Mei 2014

Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 06 vol.02/Rajab – Sya’ban 1435H/Mei – Juni 2014

Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 06 vol.02/Rajab – Sya’ban 1435H/Mei – Juni 2014
Judul: Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 06 vol.02/Rajab – Sya’ban 1435H/Mei – Juni 2014,
Tema : Isbal, Dosa Besar yang Diremehkan
Penerbit: Ma’had al-Manshuroh
Tebal: 104 halaman
Fisik: 15 cm x 23 cm, uv, soft cover
Harga: Rp 12.000 (Jawa) Rp.14.000 (Luar Jawa)

UNTUK KALANGAN SENDIRI

Sinopsis Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 06 vol.02/Rajab – Sya’ban 1435H/Mei – Juni 2014

Salam Pengantar, Keakraban Rodja dengan Ali Hasan al-Halabi
Setiap orang memiliki standar yang sama ketika ingin menjadikan orang lain sebagai teman atau sahabat. Standar tersebut adalah adanya sejumlah kesamaan pada dirinya dengan orang yang hendak dijadikan teman. Sehingga kita bisa melihat di masyarakat, demikian banyak pertemanan (komunitas) yang dijalin atau disatukan oleh kesamaan-kesamaan, meski kesamaan itu bisa dipandang oleh orang lain sebagai sesuatu yang sanagt remeh (tidak penting).
agama kita telah menjelaskan bahwa kedudukan teman adalah sangat penting. sehingga kita diwajibkan untuk tidak sembarang menjadikan orang lain sebagai teman. Karena teman bisa memberi pengaruh yang besar pada agama kita.
Sehingga, sungguh merupakan suatu yang sangat mengherankan ketika ada sekelompok orang yang menyeru kepada dakwah salafiyah, namun mereka menjalin pertemanan yang akrab dengan seorang tokoh yang memiliki banyak penyimpangan dan telah ditahdzir oleh para ulama agar umat menjauhi tokoh tersebut. Inilah yang dilakukan oleh para pengelola radio Rodja (dan juga RodjaTV) terhadap Ali Hasan al-Halabi.
Di antara bentuk keakraban para pengelola Rodja dengan Ali Hasan adalah mereka mengadakan muhadhoroh di masjid Istiqlal pada tanggal 29 Syawal 1433 H (16 September 2012) dengan pembicara Ali Hasan al-Halabi. Begitu pula salah satu pentolan Rodja yang bernama Firanda Andirja, begitu gigih melakukan pembelaan-pembelaan terhadap Ali Hasan al-halabi.
Fawaid edisi kali ini mencoba mengangkat sedikit bukti kedekatan hubungan antara para pengelola Rodja dengan Ali Hasan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran bisa mengambil pelajaran dan memaklumi mengapa Syaikh Robi’ bin Hadi hafidzohulloh sampai mendahdzir umat agar tidak mendengarkan radio ini.

Rabu, 23 April 2014

Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 05

Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 05
Judul: Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 05 vol.01/Jumadits Tsani-Rajab 1435H/April – Mei 2014,
Tema : Ahlus Sunnah vs Hizbiyyah
Penerbit: Ma’had al-Manshuroh
Tebal: 124 halaman
Fisik: 15 cm x 23 cm, uv, soft cover
Harga: Rp 12.000 (Jawa) Rp.14.000 (Luar Jawa)
UNTUK KALANGAN SENDIRI

Sinopsis Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 05 vol.01/Jumadits Tsani-Rajab 1435H/April – Mei 2014,

Ahlus Sunnah vs Hizbiyyah
Berpecah dan berkelompok-kelompok, saling bermusuhan antara satu kelompok dengan lainya, adalah realita yang harus kita akui menghiasi wajah umat Islam di mana-mana. Tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompoknya, merasa di atas al-haq, sementara yang lainnya adalah salah. Inilah salah satu topik utama Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 05 kali ini.
Tentu ini adalah keadaan yang memilukan dan membuat prihatin siapa saja yang memiliki ghiroh terhadap agamanya. Banyak yang merasa sedih karena umat ini ternyata tidak bisa bersatu.
Namun harus kita ingat pula bahwa berpecah dan berselisih adalah keadaan yang tak terhindarkan dalam perjalanan umat ini. Dengan kata lain, ini adalah sunnatulloh, yang mau tidak mau akan terjadi pada umat ini. Dari banyak nash, kita ketahui bahwa ikhtilaf (perse1isihan/perbedaan pandangan) akan banyak terjadi sepeninggal Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam, dan semakin jauh  dari masa kenabian, semakin merebak dan meluas pula karenanya.
Menghadapi keadaan sperti ini, banyak umat dibuat bingung karenaya. Tidak tahu mana kelompok yang benar-benar di atas al-haq,  karena semua mengklaim sebagai kelompok yang selamat, sermua mengklaim sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Syubhat-syubhat yang sangat samar dan menjerumuskan, senantiasa dilepaskan oleh berbagai kelompok, untuk menjerat umat menjadi mangsa hizbiyyahnya.
Bila kita mencermati berbagai diskusi, perdebatan, atau silang pendapat yang berkembang di sekitar kita, sungguh kebingunganlah yang paling mudah muncul. Terlebih bila kita menengok dunia internet, perdebatan tentang masalah ini sudah masuk pada keadaan yang demikian kompleks dan seperti tak ada habisnya.
Lantas, bagaimana bimbingan syariat dalam menghadapi situasi “chaos” semacam ini? Akankah umat dibiarkan bingung dan terombang-ambing dengan berbagai klaim kebenaran dari kelompok (hizb)?
Tentu saja tidak. Allah Ta’ala dan Rosul-Nya Shollallohu ‘alaihi wa Salam telah memberikan bimbingannya bagaimana menyelamatkan diri dan agama kita dalam situasi seperti ini. Inilah yang menjadi topik utama pada majalah Fawaid Edisi 05 ini, yang diambil dari fatwa-fatwa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta, Kerajaan Saudi Arabia, yang diketuai asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rohimahullah. Semoga memberi manfaat bagi kita semua.
Di Rubrik Pondasi Iman mengetengahkan judul “Meminta Syafaat kepada Orang Mati adalah Syirik” yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Umar As-Sewed Hafidzahullah.
Pada Rubrik Fatwa Ulama berisi antara lain, hakekat orang yang ditahdzir ulama, Mereka dengki terhadap Asy-Syaikh Robi’, Cara bertaubat dari kesalahan, Syaikh terpengaruh orang disekitarnya?.
Pada Rubrik Membela Manhaj Salaf berisi: Membongkar kejahatan Ihya ut-Turots dan jaringanya, Fatwa ulama tentang bahaya Ihya ut-Turots.

Diantara isi Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi 05 vol.01/Jumadits Tsani-Rajab 1435H/April – Mei 2014,:

  • Membongkar kejahatan Ihya ut-Turots dan jaringanya
  • Hakekat orang yang di tahdzir ulama
  • Barang yang harom diperjualbelikan
  •  Ajarkan al-Qur’an sejak dini
  • Jihad di Kampung Laut

Selasa, 08 April 2014

Majalah Asy-Syariah Edisi 100 1435H-2014 dan Sakinah

Majalah Asy-Syariah Edisi 100 1435H-2014 dan Sakinah
Judul: Majalah Asy-Syariah Edisi 100 1435H-2014 dan Sakinah
Tema : Demokrasi Merusak Moral Generasi
Penerbit: Oase Media
Tebal: 112 halaman
Fisik: 16 cm x 24 cm, uv, soft cover, 8 halaman color
Harga: Rp 12.000

Pengantar Redaksi Majalah Asy-Syariah Edisi 100 1435H-2014 dan Sakinah

Pengantar Redaksi
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hajatan politik bernama Pemilu benar-benar menguras energi bangsa ini. Tak hanya soal anggaran pemerintah atau dana yang dirogoh dari kantong pribadi partisipan, tetapi juga hampir seluruh sumber daya yang ada all out dikerahkan. Semuanya demi sebuah prestise kekuasaan mengatasnamakan rakyat. Lebih-lebih persiapannya sudah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Pileg dan pilpres berakhir, pemilukada di depan mata. Belum pemilihan dalam liugkup lokal seperti pilkades. Ini terus berlangsung dalam siklus lima tahunan, Jadi dari tahun ke tahun, kekuasaan selalu menjadi fokus dan tema panas.
Jika sudah pernah duduk di legislatif sebelumnya, periode berikutnya pun berupaya “eksis” lagi. Demikian juga dengan jabatan kepala daerah, andaikan tidak dibatasi aturan, sangat mungkin sampai seumur hidup jabatan itu akan terus dikejar. Dahulu pernah jadi menteri, “turun pangkat” jadi gubernur/Wakil gubernur atau Walikota pun tak masalah, yang penting kekuasaan itu dalam genggaman. Alhasil, kutu loncat politik pun bermunculan. Idealisme atau garis ideologi partai menjadi omong kosong. Yang penting terpilih, yang penting bisa kembali duduk di lingkaran kekuasaan. Membela rakyat yang acap jadi jargon pun terbang entah ke mana.
Demokrasi menjadi kian tidakjelas, kala demi menjaring suara sebanyak-banyaknya, artis-artis dengan akhlak yang juga tidak jelas malah dimunculkan. Tidak sedikit pula caleg dengan latar belakang ekonomi lemah, nekat “maju” dengan terlilit utang besar.
Tidak heran, jika segala cara kemudian dilakukan: politik uang, kampanye hitam, obral janji, hingga mendatangi dukun. Maka menjadi aneh, jika kita banyak berharap dengan orang-orang aneh semacam ini.
Itulah politik yang penuh intrik. “Wakil rakyat” akhirnya tak lebih jadi jembatan untuk memperkaya diri. Padahal ada anomali demokrasi yang jauh lebih besar dari semua itu. Demokrasi yang berakar dari filosofi Yunani, telah menuhankan suara terbanyak sebagai standar untuk mengambil keputusan “terbaik”. Suara mayoritas dan minoritas seakan-akan menjadi Rabb yang membuat syariat atau menakar sebuah kebenaran.
Prinsip-prinsip demokrasi juga memberi celah yang lebar kepada kalangan non-Islam untuk duduk di kursi pemerintahan, karena al-wala’ wal bara’ yang menjadi dasar akidah setiap muslim, dikaburkan. Tak heran, deal-deal politik atau koalisi antara partai (yang mengaku) Islam dan partai/tokoh sekular atau non-Islam menjadi biasa. Partai (yang mengaku) Islam yang memiliki caleg nonmuslim justru merasa bangga, partainya adalah partai terbuka, inklusif, dan berwawasan kebangsaan. Akhirnya, umat lagi yang jadi korban. Selain terkotak-kotak pada partai dan arus politik, sebagian umat Islam “dipaksa” menyumbang suara demi kandidat nonmuslim. Na’udzubillah.
Jangan pernah berasumsi bahwa demokrasi adalah satu-satunya sistem yang paling bisa diterima dan paling dekat dengan Islam. Jauh sekali. Kita semestinya meyakini, tujuan dan hasil yang baik harus ditempuh dengan cara/sistem yang baik pula. Betapa banyak sistem di dunia yang akhirnya hancur luluh tertepikan zaman, gagal eksis, karena dianggap tidak bisa memberikan sesuatu yang baik. Seperti itulah nasib yang akan dialami sistem-sistem buatan manusia.
Jadi, jangan pernah berharap kebaikan dan sistem yang rusak. Sembari kita terus berdoa kepada Allah, agar Ia memberikan jalan yang terbaik, yakinlah demokrasi pun sebentar lagi akan terlumat oleh waktu.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Diantara isi Majalah Asy-Syariah Edisi 100 1435H-2014 dan Sakinah
  • Bahaya memuji ahli bid’ah dan Mendiamkan Kebid’ahan
  • Kedaulatan Negara berada di tangan Partai
  • Mencalonkan diri Jadi Pemimpin
  • Demokrasi Merusak Moral Generasi
  • Taat dengan Dasar Syariat
  • Kerusakan-kerusakan Pemilu
  • Fatwa Ulama yang disalahgunakan
  • Meraih Impian dengan Klenik
  • Kisah Mualaf Suku Terasing Lauje
  • Khuthbah Jum’at: Demokrasi dan Kerusakan yang ditimbulkannya
  • Jangan Mudah Minta Cerai
  • Menyiapkan Masa Depan Anak
  • Janji Surga untuk Perempuan yang Sabar
  • Dan Masih banyak lagi

Sabtu, 15 Februari 2014

Majalah Asy-Syariah Edisi 99 1435H-2014 dan Sakinah

Majalah Asy-Syariah Edisi 99 1435H-2014 dan Sakinah
Judul: Majalah Asy-Syariah Edisi 99 1435H-2014 dan Sakinah
Tema : Iman Kepada Kitab-kitab
Penerbit: Oase Media
Tebal: 112 halaman
Fisik: 16 cm x 24 cm, uv, soft cover, 8 halaman color
Harga: Rp 12.000

Pengantar Redaksi Majalah Asy-Syariah Edisi 99 1435H-2014 dan Sakinah

Al-Quran vs Kitab-kitab Palsu

Di antara rahmat Allah subhanahuwata’ala, Dia mengutus para nabi dan rasul agar memberi peringatan dan kabar gembira kepada manusia. Allah   juga menurunkan kitab-kitabNya bersama mereka sebagai petunjuk jalan hagi manusia di tengah kegelapan. Ini tentu menjadi nikmat yang sangat besar.

Namun, sadarkah kita akan nikmat ini? Sadarkah manusia bahwasanya sebelum diutusnya nabi dan diturunkannya kitab, mereka dalam kesesatan yang nyata? Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita untuk mengimani semua kitab yang Allah turunkan, baik yang Allah subhanahuwata’ala sebutkan namanya maupun tidak, sebagai kalam Allah yang wajib dipegang teguh oleh setiap nabi dan kaumnya. Hingga datang syariat al-Qur’an yang wajih dipegang oleh seluruh manusia di sepanjang masa dan tempat, membenarkan apa yang sudah dijelaskan pada kitab-kitab sebelumnya, memperbarui Serta mengoreksi ajaran ajaran sebelumnya yang telah diubah dan dirusak oleh kaumnya.

Maka, mengimani kitab-kiitab Allah adalah perkara yang sangat pokok dalam kehidupan. Dalam banyak ayat al-Qur’an Allah   menyebutkan azab dan kebinasaan yang menimpa umat terdahulu sebagai akibat pendustaan mereka terhadap kitab-kitab Allah  . Demikian pula azab akhirat. Allah kabarkan bahwa orang-orang yang kufur terhadap al-Qur’an dan merendahkannya dengan perkataan, “Al-Qur’an hanyalah ucapan manusia” akan Allah campakkan ia ke dalam neraka Saqar, setelah kehinaan yang dia sandang di kehidupan dunia.

Namun, keimanan terhadap kitab-kitab Allah tentu bukan sekadar mengatakan, “Saya telah mengimani ktab-kitabNya.” Ada beberapa perkara yang harus kita imani dan amalkan sehagai bukti keimanan kepada kitab-kitab Allah, di antaranya: meyakini dengan pasti tanpa sedikit pun keraguan bahwa kitab-kitab Allah semuanya turun dari sisi Allah. Juga meyakini bahwa kitab-kitab tersebut, adalah kalam (firman)’Allah, bukan makhluk. Allah berbicara (berfirman) secara hakiki sesuai dengan kehendak-Nya.
\
Jadi, apa yang tertulis dalam mushaf, dihafalkan dalam dada, dilafadzkan dengan lisan, direkam dalam kaset-kaset, ataupun diperdengarkan dalam siaran-siaran radio, semua itu kalam Allah bukan perkataan Jibril bukan pula perkataan Nabi Muhammad   Masih banyak lagi konsekuensi dari Keimanan kita terhadap al-Qur’an.

Al-Qur’an juga bersifat universal, berlaku untuk jin dan manusia, dari segala ras dan suku bangsa. Al-Qur’an juga Allah   tetapkan sebagai kitab yang berlaku dan menjadi pedoman hingga akhir Zaman. Oleh karena itu, Allah   menjamin penjagaannya clan segala macam peruhahan hingga akhir zaman, baik perubahan lafadz maupun makna.

Kini, dari masa ke masa al-Qur’an terus dihafal jutaan umat Islam, al-Qur’an masih diambil dengan cara talaqqi dan ‘ardh sehingga sanadnya masih bersambung hingga kepada Rasulullah. Tidak ada satu pun kesalahan pasti diluruskan, dan tidak ada satu pun upaya mengubah al-Qur’an pasti terbongkar makarnya. lnilah yang menjadikan teolog kristiani dan Yahudi merasa geram dan hasad menyaksikan penjagaan al-Qur’an yang luar biasa, yang tidak mereka dapatkan pada Taurat dan Injil. Kedua “kitab” yang bertabur kontradiksi itu menjadi salah satu bukti nyata bahwa di dalamnya terdapat banyak peruhahan. Mungkin ini adalah  salah satu alasan mengapa kalangan awam Nasrani dilarang mempelajari kitab mereka dengan serius. Pembacaan al-Kitab dibatasi pada para penginjil.

Demikianlah al-Qur'an yang begitu istimewa, yang akan terus dijaga Allah hingga hari akhir. Maka dari itu, di tengah maraknya kitab-kitab palsu, masihkah kita ragu akan kebenaran al-Qur’an?